Poli

Menjelang tujuhbelasan gini biasanya di kampung simbah Cangakan Darussalam sering diadakan lomba poli. Simbah gak pernah bisa main olah raga ini. Tiap kali main tangan langsung lebam trus njarem . Jadi walaupun judul tulisannya poli, simbah nggak akan bahas poli yang ini.

Saat jaman koas dulu, simbah sering ditugasi jaga poli, maksudnya tentu saja adalah poliklinik. Saat ini aktifitas itu tidak lagi simbah tekuni. Jadi tulisan ini juga tidak akan membahas itu.

Ketika simbah kenal usaha dakwah keluar di jalan Allah, ada satu hal yang tidak boleh dibahas, yakni bahasan politik. Maka politik menjadi hal yang tidak disentuh untuk dibahas. Bukan berarti kita tidak berpolitik, namun justru cara berpolitiknya adalah dengan tidak membahas urusan politik.

Itu sama halnya dengan ketika seseorang diminta berkomentar, lalu dia berkata : “No Komen!” Artinya, dia berkomentar dengan “No komen!” Atau seseorang yang tidak mau diajak berkomunkasi, yang artinya dia berkomunikasi dengan cara nggak mau diajak komunikasi.

Back to poli, dengan metode berpolitik tanpa membicarakan masalah politik, maka yang dibicarakan di setiap momen adalah melulu bagaimana manusia selamat di akherat. Di saat musim pilihan kades, yang dibahas itu. Saat pilihan kadal, yang dibahas itu juga. Saat parpol nawari gambar-gambar umbul untuk dicoblos, tetap akan dijawab dengan bahasan bagaimana manusia selamat di akherat.

Kades, Kadal dan gambar umbul coblosan bukanlah tujuan dakwah. Dia hanya alat pendukung. Keberadaannya boleh ada, boleh juga tidak. Maka saat Nabi Musa diutus kepada Fir’aun, misinya bukan buat menggantikan posisi Fir’aun sebagai raja. Tapi mengajak Fir’aun jadi taat kepada Allah. Saat pembesar Quraisy tidak nggubris dakwah Nabi dan justru seorang buta yang tertarik, maka Nabi ditegur manakala ketertarikan seorang buta ini tak ditanggapi dengan pantas. Pesan yang hendak disampaikan Allah adalah, penguasa dan kekuasaan bukan hal yang pantas diprioritaskan ketika dihadapkan dengan kemauan menanggapi dakwah walau dari orang kalangan rendahan yang buta.

Sejarah membuktikan, saat Hiraqla atau Heraklius mengakui kenabian Muhammad shallallaahu alaihi wa sallam dan dia adalah penguasa Romawi,  namun dia tak didukung oleh bawahannya, yang terjadi adalah pengingkaran. Posisi kaisar yang dimilikinya tak lantas menjadikan Islam mudah diterima bangsa Romawi. Yang ada justru si Heraklius ciut dan mundur kafir lagi.

Sebelum urusan poli ini jadi kemana-mana, simbah sudahi dulu tulisan ini. Simbah tampilkeun wayang Sengkuni dan Kresna sebagai perlambang yang mewakili kalangan penasehat politik. Yang satu penasehat politik kurawa, yang satunya penasehat politik pandawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s