Brand Ambassador

Kang Gareng mongkog atinya. Dia ditapuk.. eh.. didapuk menjadi brand ambassador satu produk salep kulit yang sudah kawentar, yakni Salep Kulit Cap Nglotjop. Salep kulit yang diklaim mampu menangkal semua keluhan penyakit kulit. Jika salep panu ngilangin panu, salep koreng ngilangi koreng, dan salep kudis ngilangin kudis, maka salep kulit Nglotjop ini diklaim mampu ngilangin kulit.. eh.. penyakit kulit sampai nglocop. Nglocop adalah istilah untuk kondisi kulit yang mengelupas.

Demikian juga kang Petruk, lagi seneng hatinya karena dia juga dijadikan duta tertib lalu lintas. Kapolres Karang Tumaritis sedang gencar mengkampanyekan tertib berlalu lintas di jalan raya. Dan Kang Petruk dirasa pantes untuk didapuk menjadi duta tertib lalu lintas.

Dengan menjadi brand ambassador satu produk salep kulit dan duta tertib lalu lintas, maka kang Gareng dan Kang Petruk harus mengikuti tata aturan yang diberlakukan pada keduanya. Misalnya pada kang Gareng, sebagai Brand Ambassador kang gareng harus mampu tampil dengan kulit mulus, bersih dan bebas penyakit kulit. Kalo tiba-tiba Kang gareng maju ke tampil dalam kondisi kulit gudigen, kadasen dan kemproh, maka dia bisa dicuthat dan dicoret dari posisi Brand Ambassador. Maka mau tak mau Kang Gareng kudu rajin mandi, jaga kebersihan kulit dan tampil kinclong. Gak lagi adus kali bareng kebo piaraannya, atau tampil ke khalayak sampil thithil gudig. Karena hal tersebut akan menjatuhkan wibawa dan nama baik brand produk yang dibawanya.

Demikian juga dengan Kang Petruk. Sebagai Duta Tertib  Lalu Lintas, Kang petruk dituntut untuk santun berlalu lintas. Lampu merah ditaati, surat-surat kendaraan dilengkapi, rambu-rambu dihormati dan tidak main sogok ke polisi. Kalau ketanggor bin ketahuan kang Petruk nylonong lampu merah, maka hujatan publik akan gencar diarahkan kepada kang Petruk. Mengapa begitu? Padahal yang suka nylonong lampu merah kan gak hanya kang Petruk? Betul, yang suka nglanggar lampu merah tidak hanya kang Petruk, tapi karena posisi  Duta Tertib Lalu Lintas ini maka kang Petruk punya beban lebih. Dan pelanggaran atas tanggung jawab sebagai  duta ini akan lebih menjadi perhatian dibanding mereka yang cuma warga biasa.

Satu hal yang dilupakan oleh muslimin dan juga umat Islam  adalah, dengan memeluk agama Islam maka otomatis dia menjadi muslim yang merupakan duta kebaikan. Brand Ambassador atas produk kebaikan. Muslimin lupa bahwa sejatinya dirinya adalah duta bagi segala bentuk-bentuk kebaikan. Duta kedisiplinan, duta kesopanan, duta kesantunan, duta hidup sehat, duta tepat janji, duta kejujuran, duta hidup amanah, duta kecerdasan dan beraragam duta-duta lainnya yang beraroma kebaikan.

Lha kalo kesehariannya mengaku muslim namun kelakuannya jauh dari kesantunan, suka gak tepat waktu, nggak jujur, suka korupsi, gila hormat, suka menghina, dendam kesumat, dan beragam kelakuan yang mengingkari beban tanggung jawab sebagai seorang muslim, maka ini tidak hanya menghina dan menistakan Islam secara umum, namun juga menghina Allah secara langsung. Lha kalo cuma Kapolres yang dibikin wirang dan malu oleh kang Petruk, karena sebagai Duta Tertib Lalu Lintas kok nylonong lampu merah sih masih enteng, ini Allah langsung je…

So, menjadi muslim itu bukan beban ringan. Kita mengemban tanggung jawab berat maka balasannya juga besar. Maka tak heran jika umat lain yang bikin keburukan tak terlalu digubris. Tapi kalo umat Islam yang bikin keburukan, maka menjadi perkara besar. Menjadi duta kebaikan memang tak mudah…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s